Tidak Semua Orang Sedang Berbahagia Saat Ini
![]() |
| Image by Fb Mukjizat Sholat dan Do'a |
Sore ini tampak cerah, aku dan keluarga serta beberapa kerabat datang lebih awal untuk mempersiapkan tempat dan sedikit acara yang akan kami adakan. Beberapa tamu undangan mulai berdatangan sampai pada akhirnya semua tamu telah datang.
Suasana begitu meriah dan ramai dipenuhi suara tepuk tangan dan nyanyian, tak kalah ramainya dengan suara tawa anak-anak dan kegembiraan mereka dengan meloncat dan berlari. Di tengah kegembiraan itu, tanpa sengaja aku menoleh ke halaman luar lewat dinding kaca dan mataku bertumpu pada seorang gadis kecil berpakaian lusuh tanpa alas kaki sedang berdiri terpana. Sepertinya, dia juga menikmati kegembiraan kami, sesekali dia menelan air liurnya dan aku menangkap rasa lapar tergambar pada wajahnya yang tirus.
Aku terhenyak melihatnya, kupandangi kembali wajahnya yang mungil, senyumnya yang polos, kemudian pandanganku memutar menatap keramaian di sekelilingku, betapa suatu keadaan yang sungguh berbeda.
Terbayang masa kecilku, ketika aku dan ibuku melintasi sebuah rumah yang begitu ramai, banyak anak kecil seusiaku dengan berpakaian bagus bernyanyi dan bertepuk tangan, tertawa riang, dan meloncat-loncat. Sesaat, aku berhenti dan terpaku menatapnya, ketika tangan ibu menarikku, aku menatap ibu dan bertanya, “Itu apa, Bu? Kenapa banyak anak-anak di sana?” Ibuku menghela napas, sambil menatapku ia berkata, “Itu pesta ulang tahun, anakku.” “Ulang tahun, kapan aku ulang tahun, Bu?” Mendadak, timbul sebersit harapan bahwa suatu saat aku pun akan merasakan kegembiraan pada pesta ulang tahunku.Ibuku berjongkok, sambil memegang pundakku ia berkata, “Setiap tahun pada setiap tanggal kelahiranmu, itulah hari ulang tahunmu, Nak. Tapi, maafkan ibu karena sampai saat ini ibu belum mampu mengadakan pesta untuk ulang tahunmu.”
Aku melihat kesedihan pada raut wajah ibuku, “Ayo Nak, kita pulang.” Aku mengikuti langkah ibuku sambil beberapa saat, sesekali aku masih menoleh rumah yang ramai itu, rumah yang ibu katakan ada pesta ulang tahunnya, pesta yang ramai, pesta yang penuh kegembiraan.
Aku melangkah keluar menghampiri gadis kecil itu, dengan sedikit membungkuk aku menyapanya, “Hallo adik kecil.” Gadis kecil itu tersentak dan membalikkan badannya bergegas pergi. Aku memegang pundaknya dan dia tampak ketakutan. “Ayo masuk, kamu mau ikut pesta ulang tahun ini, kan?” Ia mengangguk dan aku menggandengnya masuk.
Aku memintanya duduk lalu memberinya satu porsi makanan. Wajah lugunya terlihat gembira, tapi mata beningnya seperti menyimpan sesuatu. “Makanlah, Dik.” Dia menatap makanan itu, lalu menggelengkan kepalanya.
“Kamu tidak suka makanan itu?” Ia kembali menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?”
“Aku ingat Ibu,” jawabnya.
“Aku mau memberi makanan ini untuknya.”
“Ada apa dengan Ibumu?”
“Ibuku sakit, aku tidak tahu apa ibuku akan mempunyai kesempatan untuk bisa makan makanan enak seperti ini.” Dia tertunduk dan dari air mata beningnya aku melihat air matanya mengalir.
Aku tersentak mendengarnya, terbayang olehku saat ibuku terbaring sakit, apa pun yang aku sediakan tidak lagi bisa membuatnya berselera untuk makan. Demikian juga sering kali saat aku membayar mahal untuk satu porsi makanan yang aku makan, terbayang olehku ibu yang duduk di dipan kayu sedang menghitung lembar-lembar uang lusuhnya. Ketika aku menghampirinya, dia berkata, “Maafkan ibu, Nak, karena ibu tidak pernah bisa memberimu makanan enak dan bergizi. Mungkin, uang ini hanya cukup untuk kita makan beberapa hari saja.”
Setiap kali aku melihat ibu menghitung uang belanjanya yang lusuh, aku membatin dalam hati bahwa jika aku besar nanti, aku akan member ibu makanan-makanan yang enak dan bergizi.
Aku juga ingat bahwa aku berjanji dalam hati jika besar nanti, aku mau membeli sebuah rumah yang nyaman untuk kami tinggal, mau membeli sebuah mobil dan mengajak ibu jalan-jalan.
Aku berjuang untuk mewujudkan harapan itu, tapi ternyata aku tak pernah sempat membelikan ibu sebuah rumah yang nyaman, apalagi membeli sebuah mobil untuk mengajaknya jalan-jalan.Aku bekerja apa saja yang penting halal, aku mencari uang Karena ingin bisa kuliah dan bekerja di kantor. Setamat SMA, aku juga bekerja dan malamnya aku kuliah, tidak jarang sepulang kuliah aku belajar dengan penerangan lampu minyak yang redup. Aku bahkan jarang membelikan ibu makanan enak dan bergizi seperti janjiku waktu kecil karena saat aku belikan, ibuku selalu berpesan agar sebaiknya uangku itu ditabung untuk biaya kuliahku. Aku mengikuti sarannya, menabung untuk biaya kuliahku, maklumlah gajiku tidak seberapa, tapi ternyata hal ini akhirnya terkadang menjadi sebuah penyesalan karena aku tidaj pernah bisa memberinya apa-apa.
“Om…” Sapaan gadis kecil itu membuyarkan lamunanku.
“Boleh aku bawa pulang makanan ini?” Aku mengangguk.
Aku memesan satu porsi lagi dan memberikan padanya, “ini untuk ibumu.”
Bola mata gadis kecil itu berbinar, sambil tersenyum ia mengucapkan terimakasih padaku. Dengan menenteng bungkusan makanan, langkah kecilnya berlari menjauh dariku.
Saat kita tertawa gembira dalam pesta, ada begitu banyak orang yang menangis dan kesepian. Saat kita menyia-nyiakan waktu sekolah kita, ada begitu banyak sesama kita yang tidak mampu untuk bersekolah. Saat kita membayar mahal untuk satu porsi makanan yang kita makan, ada begitu banyak sesama kita yang tidak mampu membeli makanan walau hanya sekadar mengganjal rasa lapar.
{Kutipan dari buku Surat dari Sang Maha Pencipta (Fani Krismawati)}
Bersyukur kadang mungkin terlupa, padahal BERSYUKUR menuntun kita menyingkirkan sisi negatif kehidupan. BERSYUKUR mendorong kita untuk bergerak maju penuh antusias dan optimisme. BERSYUKUR adalah sikap menerima kenyataan dan melakukan perbaikan. Semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak pula KEBAHAGIAAN yang akan kita terima.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S.al Waqi’ah:13)


Komentar
Posting Komentar