Tentang Sebuah Ucapan

Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik)

Hampir seluruh warga Indonesia, Mesir ataupun belahan Negara lainnya mengenal beliau. Seorang yang berhasil memikat orang dengan dakwah novelnya. Alur ceritanya yang luar biasa, sarat makna yang disampaikan dengan tutur kata apik. Luar biasa.

Yah saya salah satu manusia yang mengaguminya. Walaupun, tidak setia (baca: sering baca novel karangan beliau tapi punya teman). Bahkan demi membaca “Pudarnya Pesona Cleopatra” sampai rampok perpus adik kelas beda sekolah. Saat itu saya sedang duduk dibangku SMA. Buku-buku beliau sangat menginspirasi. Sungguh meresap kedalam hati ibarat bumbu ayam kecap. ‘Ketika Cinta Bertasbih’nya benar-benar bertasbih dihati saya. Menangis dibuatnya, padahal hanya baca saja.

5 Agustus 2012. Kala itu saya sudah mengenyam bangku perkuliahan. Saya mendapatkan hadiah dari Allah untuk menghadiri bedah buku “Cinta Suci Zahrana” yang tentu saja dalam acara tersebut ada beliau (kang Abik) dan salah satu tokoh utama yaitu Kholidi Asadil tepatnya di gedung Robotika ITS. Karena belum pernah sama sekali menginjakkan kaki disana, akhirnya saya mengadakan acara ‘tunggu-menunggu’ dengan teman yang memahami daerah tersebut. Lama, sampai hampir telat. Alhamdulillah masih dapat tempat duduk dan setidaknya bukan diurutan paling belakang. Tapi tetap saja karena mata yang mulai udzur, para bintang tamu itu terlihat samar. Stop ngga boleh protes lagi. Ditengah-tengah acara terbersit keinginan untuk minta tandatangan beliau. Tapi? Ngga punya bukunya sama sekali. Daaan, ting! Saya keluarkan selembar kertas dari binder. Rencananya sih tandatangan beliau saya alamatkan kesana. Dan selanjutnya dihibahkan pada kaum yang benar2 membutuhkan, karena bertemu dengannya saja sudah cukup walau dari jauh (ah yang ini hanya interest aja kok, hehe).

Saya pegang terus itu kertas sekaligus bolpoin sampai akhir acara dengan semangat 45 yang berkobar, untungnya ngga sampai kebakaran sih. Hehe. Dan, saat MC mulai mengakhiri acara. Semangat 45 yang berkobar itu berganti dengan degub jantung yang mulai konser. Selanjutnya, saat MC benar-benar telah mengakhiri acara dan para bintang tamu usai berfoto sambil diberi bingkisan…tebar senyum kesana kemari…dan grudukk, gratakk, waaaaw, wuaa, auw (yang terakhir bo’ongan,hehe). Para fans itu menyerbu sang bintang. Dan, waduh. Haloo Nurina?? Wuaduh, masih hidupkah dirimu? #kerjap2in mata sambil melongo. Kertas mana kertas? #padahal digenggam. Mau ikutan kok yaa anuu. Ngga level banget ya kayaknya (MPE-mekanisme pembelaan ego-).

#Mulai kesal, mulai kesal. Akhirnya ngga jadi deh, batal. Masukin lagi itu kertas tanpa rasa perikekertasan. Dalam hati mulai jampi2, eh ngga ding berdo’a sambil pasang muka sotoy. Tunggu saja, suatu saat nanti saya pasti bisa ketemu dengan jarak yang tidak lagi samar. Minta tanda tangan dan foto sepuasnya. Sampai bosen kalau perlu! Wehee.

26 Mei 2013. Waktu berjalan tanpa disadari, benar-benar lupa dengan keinginan itu. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan yang lebih dahsyat luar biasa dari Allah lagi (kaga bosen2 ya kasih hadiah, heran deh eike hehe). Jadi panitia acara yang mendatangkan beliau. Bisa makan bareng, bahkan semobil pula. Ngantar ke penginapannya juga. 2 hari ketemu beliau terus dengan waktu yang relatif lama. Sampai ke bandara ketika beliau pulang pun saya ikut serta. Ucap syukur sambil mangap2 aja dah. Shock gembira, ucapan yang mengandung unsur mimpi magis itu terwujud (magisnya bo’ongan kok).

Alhamdulillah, Bumi cintaNya benar-benar nyata dan penuh cinta.

Subhanallah, wal hamdulillah wa laailaha illallah wallahu akbar

Laa haula wa laa quwwata illaabillaahil ‘aliyyil ‘adzhim…
(Late post, baru ingat pernah ngetik ini di laptop :p)

.nuna.


Berikut foto-foto saat semaian ucapan itu menjadi kenyataan, Dream Come True.

Saat menunggu makanan (1 meja dengan beliau)

Usai makan, foto bareng lagi ^^

'Lesehan Joyo'
Saksi bisu dimana salah satu mimpi saya terwujud

Sampai jumpa kembali, Kang Abik...
Terimakasih...

Komentar

Postingan Populer