Yang Tidak Pulang
Di salah satu sisi tepian terminal bus, malam hari, seorang bapak tua sedang duduk sendirian– hanya ditemani seekor kucing berbulu hitam putih. Dia baru saja menggelar alas dari banner bekas. Sekarang dalam diamnya, dia khidmat mengeluarkan beberapa barang dari tas usang. Tidak peduli suara mesin dan klakson dari bus di jalur keluar terminal. Dia fokus pada kegiatannya sendiri di emperan bangunan.
Nanti si bapak tua akan tidur di situ, ditemani kucing yang setia.
Apa cerita di balik keadaan si bapak tua itu?
Bagaimana bisa dia berakhir hidup dan tinggal di emperan bangunan? Bagaimana ceritanya?
Bukankah itu berarti dia sekarang tidak punya tempat tinggal?
Lalu bagaimana dengan keluarganya? Anaknya? Sanak saudara? Tidak adakah yang mau membantu?
Bagaimana pula tokoh masyarakat? Pengurus RT RW setempat? Pemerintah melalui lembaga terkait? Tidak adakah yang peduli?
Atau ini memang jalan hidup si kakek?
Tidak bergantung pada dunia sedikitpun?
Bebas, tanpa drama dengan orang lain karena tidak punya kepentingan apapun?
Bebas, tanpa khawatir kehilangan harta karena tidak punya harta apapun?
Bebas, karena tidak ada ekspektasi dan standar yang harus dia ikuti?
Entahlah. Aku tidak tahu.
-Bayu Widya

Komentar
Posting Komentar