40 Hari Membaca Buku
![]() |
| nuna's photograph |
40 hari. Waktu yang dibutuhkan untuk pergi berhaji. Hari pertama dari 40 hari itu aku berpamitan off dari salah satu sosmed yang biasa kugunakan jadi ajang membuat curhat berupa narasi pendek. Tapi, 40 hari saat itu aku tidak sedang berhaji karena tabunganku masih menunggu keajaiban. Yah, mungkin seperti tiang listrik yang tetap kokoh meskipun ia baru saja ditabrak oleh mobil besar seukuran fotuner. Ah, abaikan.
40 hari itu kugunakan untuk membaca. Lebih tepatnya mengikuti sekolah membaca via whatsapp yang bernama Reading Challenge. Kelas pertamanya bernama Reader, kelas duanya bernama Middle Reader, kelas tiganya bernama High Reader (targetku selanjutnya *grrrh). Sedangkan kelas selanjutnya aku belum tahu apa namanya, biarlah menjadi rahasia. Sederhana sekali, tapi sekolah ini benar-benar membutuhkan kejujuran dan fisik yang kuat. Dengan tubuh mungil ini aku harus membawa buku yang kadang ukurannya membuat tanganku kesemutan saat memegangnya kemanapun kaki melangkah. Urusan bisa membaca atau tidak mah, yang penting bawa aja dulu. Tak jarang salah satu sahabatku menanyakan berapa lama waktu yang harus kuhabiskan untuk melahap buku setebal itu (kira-kira seukuran buku Tere Liye dengan judul Rindu). Kalau memang hatiku sedang tidak sehat bisa jadi dua atau tiga hari cukup. Waduh, gila kamu. Kujelaskan saja bahwa diluar sana masih banyak lagi orang yang lebih gila daripada aku. Sahabat lain menimpali kalau dia tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca karena sibuk dengan suami, anak dan pekerjaannya. Maka kujelaskan pula banyak sahabatku yang lain dengan kesibukan yang lebih ajaib daripada itu mampu tetap meluangkan waktunya untuk membaca.
Well, untuk giat membaca benar-benar membutuhkan tekad yang kuat bukan hanya sekedar alasan. Karena nantinya akan menemui hal-hal menakjubkan yang hanya bisa dirasakan oleh orang dengan tekad kuat saja. Karena alasan untuk tidak membaca lebih banyak ketimbang sebaliknya. Godaan sob.
Tantangan 40 hari yang harus kulewati benar-benar terjal. Saat memutuskan untuk bergabung, aku melihat jadwal bermain yang sudah terjadwal rapih 40 hari kedepan benar-benar menguras tenaga dan waktu. Harus bermain ke Bandung naik kereta api. Mungkin masa kecilmu bahagia jika saat membaca kalimat sebelumnya dengan bernyanyi, hehe. Setelahnya, aku harus pergi bermain ke puncak yang dilanjutkan pula dengan pergi ke negeri dongeng. Yeah, aku masih anak-anak. Dan aku harus menghabiskan waktu ku dengan bermain. Aku harus bermain sembari membaca. Sungguh melelahkan. Dan bukan hanya itu saja hal yang melelahkan, setiap harinya aku harus siaga melaporkan berapa banyak halaman yang sudah kulahap. Ketimbang membaca, yang paling butuh perhatian ekstra adalah istiqomahnya untuk melapor setiap harinya selama 40 hari. Telat sehari aku bisa dapat centang hijau. Telat 6 kali, aku bisa gugur dan harus mengulang kelas lagi. Parahnya, laporan ini tidak bisa dititipkan ke siapapun. Apapun kesulitan yang ada didepanku untuk melapor, ibu wali kelas tidak akan menerima alasan untuk itu.
Namun saat mengikuti kelas membaca ini aku hanya berbekal tujuan supaya selamat saat naik kelas. Sederhana sekali. Namun dengan padatnya aktivitas bermainku yang berpindah-pindah lokasi dan melelahkan, aku tidak boleh lengah supaya laporan tetap mulus tanpa contrengan berwana hijau sampai pentungan merah itu. Disinilah banyak kawan seperjuanganku yang mulai berguguran. Dengan berbagai laporan mulai dari dibegal signal sampai kelupaan, macam-macamlah. Saat berada di puncak, barulah aku mulai menyadari sakitnya dibegal signal. Aku harus berjalan mondar-mandir yang diselingi dengan berlari-lari kecil, naik turun jalan yang tidak datar sama sekali. Saat naik kereta api, banyak teman bercanda atau bahkan saling usil sembari berselfie ria. Aku merelakan waktu untuk berkomunikasi dengan buku saja. Ada beberapa sahabat yang heran, kau tidak pusing membaca buku di kereta? Ah, mungkin urat pusing ku telah tercerabut. Karena tujuan supaya selamat naik kelas itulah aku harus istiqomah menghindar dari contrengan. Namun sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Aku kelelahan dan terlelap tidur. Batas waktu laporan pun terlewati begitu saja. Gemashh!
Benarlah kata mutiara bahwa apa yang sudah kita niatkan, itu yang akan kita dapatkan. Meskipun ada sebagian yang meleset. Dari 27 siswa yang masuk ke kelas ini hanya 4 siswa yang berhasil naik kelas, aku salah satunya~ Alhamdulillah ya. 21 orang tinggal kelas, 2 orang turun kelas. Meskipun bukan aku yang mendapatkan peringkat 1. Aku lah yang nomor satu paling istiqomah untuk melapor, jiahahaha. Juara satunya mendapatkan dua pentung merah, sedang juara duanya mendapat enam pentung merah. Dan juara tiganya adalah aku dengan satu saja contreng hijau (kalau sudah dapat pentung merah berarti lupa laporan sampai berkali-kali) karena melewatkan waktu laporan dengan tidur, hiks =,=
Pencapaian yang tidak buruk, sunnah rasul lah ya dengan menduduki peringkat tiga. *ketawa ngenes
Mungkin jika diawal tujuanku adalah menjadi juara dikelas ini, akan lebih baik lagi. Namun ternyata nyaliku ciut dengan memilih tujuan yang sederhana saja. Tak apa, tetap berpikir positif dan berhenti menyesali.
Well, pesanku ada tiga. Jangan ragu-ragu memiliki niat yang ajaib, tetaplah istiqomah karena Allah mengawasimu, dan yang terakhir jangan lupa untuk bermain saat masih muda supaya saat tua nanti kau tak lupa cara bermain. Ah, abaikan pesan terakhir itu. Terimakasih dan selamat menjalani aktivitas hari ini pembaca yang budiman ^^


Komentar
Posting Komentar