-Beberapa Pemikiran yang Menakutkan dan Jawaban dari Pertanyaan yang Diajukan Kepada Allah-

Semester 2, awal yang lumayan sibuk untuk mahasiswa baru…
Sore itu seusai jam kuliah hujan turun begitu lebatnya. Ingin segera pulang kerumah.
Namun karena semua orang rumah ada ditempat nenek, jadi tujuanku adalah secepat mungkin sampai kesana.

Sore itu macet karena memang saatnya semua orang kembali pulang dari segala aktivitasnya.
Dan karena hujan yang begitu lebatnya jalanan juga dipenuhi genangan air -banjir-. Tidak hanya lebat, namun angin yang menggoyang-goyangkan  sepeda, sepertinya menakutkan.
Dengan sepeda keluaran lama ini yang kebetulan juga lagi sakit -anggap saja sakit kepala-, mau ngga mau harus diajak menerjang banjir. Saat banjir, tidak ada yang tahu ada apa di dalam genangan banjir itu. Boleh jadi terdapat lubang atau segala macam paku. Kalau sampai salah satu dari yang terdapat itu ternyata menjadi rejeki, rasanya tambah menakutkan juga. Boleh jadi jatuh saat hujan lebat atau sepeda bocor sehingga harus menggandengnya untuk mencari tambal ban terdekat -kasihan ya, sudah sakit kepala ditusuk pula-. Boleh jadi lagi apa masih ada tukang tambal ban dalam keadaan hujan lebat seperti itu.

Sore itu pula syukurlah hal-hal yang terdapat di dalam banjir tidak menjadi rejeki.
Namun sakit kepala yang dialami sepeda ini semakin menjadi-jadi saat melewati titik banjir terdalam. Dia pingsan, gawat!
Terus mencoba membangunkan tapi sepertinya dia tak sanggup bangun lagi untuk menemani perjalanan ini. Baiklah jalan satu-satunya adalah terus berjalan dengan menggandeng tangannya. Saat itu benar-benar mencemaskan karena sepertinya tidak ada orang-orang yang bisa dimintai bantuan karena sore semakin menghilang menjadi malam dengan hujan yang tak kunjung terang. Tapi bagaimanapun harus tetap berpikir yang terbaik.

Sore yang tinggal sedikit lagi berubah menjadi malam terdengar sayup-sayup suara menandakan maghrib segera menjelang.
Ah, sepertinya maghrib segera datang. Tapi hujan belum mau reda. Harus tetap berjalan nih.
Alhamdulillah, ternyata di depan ada masjid. Wuah ini adalah hal yang menakjubkan ditengah hujan.
Dengan langkah pasti, membimbing sepeda tercinta -sekalipun pernah ditawar dengan harga yang ngga murah, tidak boleh dilepas karena terdapat banyak kenangan yang tercipta bersamanya- ini untuk beristirahat sejenak. Brrr dingin juga sepertinya. Sembari menunggu adzan, melepas jas hujan dan sejurus kemudian mengambil air wudhu untuk menenangkan. Terpikirkan untuk memberi kabar supaya emak tidak khawatir, tapi namanya juga manusia malah ngasih berita mengkhawatirkan. Bingung kalau ngga bisa pulang sementara hari semakin gelap. Maka emak menawarkan untuk menjemput dari rumah nenek berbekal  sepeda kakek yang usianya malah lebih tua -seperti orangnya juga rasanya nih,hehe-.
Baiklah jika memang sampai waktu yang ditentukan sepeda tersayang ini ternyata tidak bangun juga, hal itu harus terjadi.

Malam itu seusai menunaikan sholat maghrib. Kembali ku kenakan jas hujan dan mencoba membangunkan kembali. Usaha pertama gagal, kedua, ketiga, keempat, kelima…
Ternyata saat itu sepeda terpakir didepan ruang takmir masjid.
Kemudian keluar orang dari dalamnya -sempat kaget karena sebelumnya dari tempat itu tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan-. Menuju kearah kami berdua. Kemudian serta merta menawarkan bantuan. Semoga dia bisa menyelamatkan dari pingsan berkepanjangan ini. Usaha pertama gagal, kedua, ketiga…

Malam itu juga Allah mengijinkan dia kembali terbangun dan menemani sisa perjalanan hari ini melalui kuasaNya dengan perantara orang itu.
Alhamdulillah, ternyata Allah menjawab pertanyaan yang diajukan seusai sholat maghrib tadi. Dan membenarkan pemikiran ini saat menggandengnya menyusuri jalan, bahwa Dia tak pernah memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan hambaNya.

Malam ini keren sekali yah. Sambil senyum-senyum sendiri begitu bersyukurnya hati ini. Entah saat itu sudah sebuluk apa diri ini dengan menahan dingin yang semakin membuat gigi bergemeletuk, memacu sepeda sebaik mungkin supaya tidak mebuat orang lain semakin khawatir.

Dan malam itu berkahir dengan damai.Dengan adanya kejadian itu, sebuah pemikiran untuk mengganti sepeda ini seperti punya teman-teman yang terlihat cantik-cantik kandas sudah. Sepeda ini berharga karena banyak kenangan yang sudah tercipta bersamanya.Dengan adanya kejadian itu, iman dalam hati ini naik lebih tinggi dari sebelumnya karena ternyata Allah tidak meninggalkan diri ini sendiri.Setiap orang dimuka bumi ini pasti memiliki kisah yang sama atau hampir sama, bahkan kisah yang lebih parah boleh jadi.

Yah begitulah kurang lebihnya. Semoga bermanfaat. ^^

.nuna.


images by Andy Sukma Lubis

Komentar

Postingan Populer